Laman

  • Home
  • About me
  • My Books
  • My Bussines
  • Lovely Hafidz
  • Lovely Nabila
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

Nice Homework#1 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan ( versi Shinta Rini)




Oleh Shinta Rini 


Setelah mengikuti kuliah Whatsapp (kulwap) perdana program Matrikulasi Ibu Profesional yang berisi tahapan menjadi Ibu Profesional kebanggan keluarga. Materi pertemuan pertama bisa dilihat penjelasannya pada link ini.  Setelah para peserta matrikulasi mengetahui bagaimana tahapan secara umum menjadi Ibu Profesional kebanggaan keluarga, maka Ibu Septi memberikan tugas pertama agar kita semakin memahami dan lebih mudah untuk mencapainya. Tugas ini dinamakan Nice Homework #1 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan. 

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA



Oleh : Septi Peni Wulandani

Salam Ibu Profesional,
Selamat datang di program Matrikulasi Ibu profesional.
Di sesi pertama ini kita akan membahas tentang 4 hal :
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

Kamis, 19 Februari 2015

Order Buku Bunda Cekatan - Ibu Profesional

Cover Buku Bunda Cekatan





Bismillahirrohmanirrohim..

Alhamdulillah, mendapatkan hadiah paling berkesan pada milad saya tahun 2014 ini dengan hadirnya Buku Bunda Cekatan tepat di hari Ibu. Buku yang ditulis bersama teman-teman tim penulis Bunda Cekatan lintas negara (Indonesia-Korea Selatan). Alhamdulillah semoga hadirnya buku ini bermanfaat bagi para Bunda, calon Bunda, dan seluruh pembaca dimanapun berada. Buku ini ditulis berdasarkan pemaparan materi Ibu Septi Peni di kuliah Bunda Cekatan Ibu Profesional. Moga buku ini menjadi amal jariyah dan pemberat amal di akherat kelak bagi Ibu Septi dan semua pihak yang telah membantu hadirnya buku "luar biasa" ini. Aamiin 


Selasa, 20 Mei 2014

Materi Kuliah Bunda Cekatan : Learn How to Learn





Kalau sebelumnya di kuliah Bunda Sayang kita belajar bagaimana mendidik anak dengan cara yang mudah dan menyenangkan, maka di kuliah Bunda Cekatan kita akan belajar bagaimana meningkatkan kualitas diri kita. Materi yang pertama dari kuliah Bunda Cekatan adalah “Learn How to Learn”. Kita akan belajar bagaimana caranya kita belajar. Sebagai seorang Ibu yang pernah melewati proses belajar di bangku sekolah hingga kuliah, tentul belajar bukan hal yang asing bagi kita. Namun setelah melewati sekian tahun belajar, apakah kita sudah paham proses cara belajar kita? dan menemukan passion kita saat mempelajari sesuatu yang sangat kita minati?. Nah, untuk bisa mendampingi putra-putri kita belajar, maka sebagai seorang Ibu harus bisa memahami proses belajar kita terlebih dahulu.  Jangan pernah malu untuk belajar karena belajar itu tidak mengenal usia dan kita akan terus belajar hingga kita menutup mata. 

Minggu, 19 Januari 2014

Promosi Buku "Bunda Sayang" (cetakan ke-2)



Sebelum promosi buku keren ini, saya mau bercerita dulu bagaimana awalnya nama saya bisa tercantum di cover buku yang manis itu hehe ^_^

Alhamdulillah, berkah di awal tahun 2014. Seorang perwakilan Komunitas Institut Ibu Profesional Salatiga yang juga merupakan penulis dan editor di buku keren ini mengabari berita bahagia kalau salah satu tulisan saya "nyangkut" di dalam buku ini hehe. Alhamdulillah, sungguh kabar yang membahagiakan. Tulisan itu saya tulis saat tahun 2011 dimana saya diminta untuk mengisi kajian keislaman online bersama muslimah antar negara. Alhamdulillah materi yang saya sampaikan di apresiasi sangat baik. Materi parenting itu  kemudian saya posting di salah satu grup facebook yang berkosentrasi pada pembahasan parenting anak dan homeschooling Islami. Alhamdulillah, materi ini banyak diminati oleh para ummahat dalam memahami perilaku anak-anak mereka. Dari tulisan itu akhirnya banyak bermunculan pertanyaan konsultasi di kolom komentar. Alhamdulillah saya senang bisa saling berdiskusi dengan para ummahat sholehah dan hebat disana.

Kamis, 03 Oktober 2013

Nabila back to school

Nabila bersama kedua sahabatnya di kelas. Lihat senyumnya, bahagianya melihat Nabila sekarang.


Alhamdulillah akhirnya punya waktu untuk menulis kisah Nabila yang kembali bersekolah di SD Korea setelah sempat izin tidak bersekolah selama 2 minggu. Saya sengaja meminta izin kepada guru sekolah Nabila melalui guru mentor Korea untuk tidak menyekolahkan Nabila dulu sampai dia siap sekolah lagi. Cerita selengkapnya ada disini ya.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Home education untuk Nabila

 
Nabila mengerjakan soal matematika Korea di buku bank soal matematika setiap hari




“Aku nggak mau sekolah, Ummi!. Pokoknya Nabila mau sekolah di rumah aja sama Ummi”.

Ya, hampir setiap hari Nabila selalu mengajukan protesnya untuk berhenti sekolah di SD Jangjeondong yang baru dia masuki tanggal 4 Maret 2013. Keluhan ini sebenarnya mulai muncul setelah seminggu dia sekolah. Hingga sekarang ketika diminta untuk melanjutkan sekolahnya kembali selepas libur summer tahun ini, jawaban keras muncul dari bibir mungilnya “ Siro! (nggak mau!)”. 

Selasa, 13 Agustus 2013

Mengajar Anak Membaca, Menulis dan Mengeja


Oleh : dr. Susan R. Johnson, FAAP

diterjemahkan oleh Ellen Kristi




PENGANTAR DARI PENERJEMAH


Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis. Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).

Belajar baca dan tulis di TK Korea





Nabila lulus TK Korea saat bulan Febuari 2013. Dua bulan sebelum Nabila lulus TK, gurunya memberikan banyak tugas (PR) menulis dan membaca sebagai persiapan untuk masuk SD Negeri. Saya kira cuma di Indonesia saja yang sibuk calistung sebelum masuk SD. Bedanya di Korea Selatan (selanjutnya akan disingkat menjadi Korea saja) tidak ada tes calistung untuk menentukan anak bisa melanjutkan sekolahnya di SD. Disini masuk SD adalah wajib. Tidak perlu khawatir apakah anaknya lulus TK dan diterima di SD atau tidak. Karena semua anak yang usianya 6 tahun sudah bisa mendaftarkan dirinya di SD terdekat di wilayah rumahnya. Tidak ada tes kesiapan masuk sekolah dasar, tidak ada tes psikologi (wah jatah kerja psikolog berkurang nich hehe), tes membaca menulis dan berhitung (calistung), tes menggambar dan tes-tes lainnya. 

Selasa, 14 Mei 2013

''ANAKMU MENGENALKAN SIAPA DIRIMU"



1.Jika anakmu BERBOHONG,itu karena engkau MENGHUKUNYA terlalu BERAT.

2.Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT

3.Jika anakmu KURANG BERBICARA,itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA

4.Jika anakmu MENCURI,itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.

5.Jika anakmu PENGECUT,itu karena engkau selalu MEMBELANYA.

6.Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS KEPADANYA.

7.Jika anakmu MARAH,itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.

8.Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS, itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA.

9.Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA.

10.Jika anakmu LEMAH,itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.

11.Jika anakmu CEMBURU,itu karena engkau MENELANTARKANNYA.

12.Jika anakmu MENGANGGUMU,itu karena engkau KURANG MENCIUM& MEMELUKNYA

13.Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya.

14.Jika anakmu TERTUTUP,itu karena engkau TERLALU SIBUK.

Selasa, 05 Maret 2013

Notulensi dan Rekaman Kajian Online Mutiara

Ibu Titin Yuri dan ketiga putra-putrinya
Saya beserta kedua buah hati tercinta


Notulensi Kajian Online "Menjadi Sahabat Anak"


Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidaklah mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup karena pendidikan agama yang diberikan disekolah hanya 2 jam/minggu. Sehingga sulit mengharapkan anak-anak yang berakhlaq Islam. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan mereka di rumah saja, juga tidak mungkin. Bagaimanapun anak-anak membutuhkan lingkungan sosial untuk belajar, berkembang dan menjalin relasi pertemanan. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. 

Senin, 22 Oktober 2012

Memahami Emosi Anak*

Oleh : Shinta Rini




(*) disampaikan dalam Kajian Muslimah Antar Negara (Mutiara), sabtu 20 Agustus 2011

Dalam suatu majelis Rasulullah saw mengingatkan para sahabat-sahabatnya, “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah SWT memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?” Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” (HR Abu Daud)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...