Laman

  • Home
  • About me
  • My Books
  • My Bussines
  • Lovely Hafidz
  • Lovely Nabila

Senin, 19 Oktober 2015

Seminar dan Launching Buku Teh Kiki Barkiah

Alhamdulillah bisa foto bareng Teh Kiki Barkiah. moga sabar dan jago nulis dari Teh Kiki nular ke saya. Aamiin 


Ahad, 18 Oktober 2015 kemarin saya menghadiri seminar parenting plus launching buku perdana Teh Kiki Barkiah di Café Persib Bandung. 

Sepulang dari Korea, saya memang rajin hunting berbagai kegiatan seminar dan pelatihan yang memang dulunya sangat saya tekuni sebelum pergi ke Korea. Saat di Korea, saya hanya mampu bersabar melihat teman-teman saya begitu mudahnya mengikuti seminar-seminar parenting di Indonesia. Awal saya mengenal Teh Kiki karena sahabat saya Linda Merina yang sering membagi status Teh Kiki di wall Facebook dan selalu rajin muncul di beranda saya.
Penasaran, saya pun memfollow dan membaca status-status Teh Kiki yang isinya seputar pengalaman beliau dalam mendidik kelima anaknya sendiri dan saat itu sedang merantau di San Jose, USA. Kondisi saya yang saat itu juga sama-sama merantau, jauh dari keluarga dan tidak ada bantuan pengasuh di Korea membuat saya semakin “rajin kepoin” status-status Teh Kiki untuk mencari cara-cara solutif untuk mengasuh anak-anak saya. Tak lupa saya pun join di grup tertutup facebook “FOCER ( Forum Curhat Emak Rempong” yang dikelola Teh Kiki dan teman-temannya. Rasa senasib sesama perantauan makin menyakinkan saya kalau Teh Kiki yang mengasuh 5 orang anak berdua dengan suaminya saja berhasil, maka insyaAllah saya yakin juga bisa mendidik anak-anak dengan happy di Korea.
Awal ketertarikan saya dengan tulisan-tulisan Teh Kiki Barkiah adalah kisah-kisahnya sangat sederhana, tapi benar-benar menggugah jiwa, menyentil hati dan bisa membuat kita bercermin mengevaluasi gaya pengasuhan saya yang ternyata masih salah dan kurang tepat. Meski saya sudah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai perkembangan anak terkadang saya masih kurang “sabaran” dan kurang bisa menahan amarah kalau anak-anak sudah memancing emosi saya, padahal anak saya baru dua lho.
Saat pulang ke Bandung karena studi suami saya di Korea sudah selesai, saya mulai mencari tahu seminar-seminar parenting yang bisa saya ikuti saat weekend. Info seminar parenting dan launching buku Teh Kiki Barkiah pun mampir di grup Whatsapp Ibu Profesional Bandung. Saya lalu mendaftar dan tidak sabar untuk bisa bertemu langsung dengan Teh Kiki yang sudah sering saya kepoin saat masih di Korea. Saya pingin tahu Teh Kiki yang sebenarnya apakah memang sabar dan lemah lembut seperti status-satus yang saya baca selama ini, saya juga ingin mendengar langsung pengalaman beliau mendidik anak dan ingin segera membaca buku perdana Teh Kiki yang kabarnya sudah dipesan 10.000 pembeli sebelum bukunya resmi di launching. Masha Allah, ternyata antusias follower Teh Kiki sebanyak itu dan ternyata bukan cuma saya sendiri yang “ngefans” dengan beliau hehe.
Saat seminar kemarin saya menyimak dengan serius apa yang disampaikan Teh Kiki supaya bisa happy menjadi Emak Rempong. Pembawaan Teh Kiki yang heboh, kocak, dan segar membuat suasana seminar kemarin benar-benar hidup. Saya membayangkan karakter Teh Kiki dari foto beliau dan isi status-status beliau yang puitis dan menggugah jiwa, pastilah orangnya sangat sabar, lemah lembut, dan bukan tipe “heboh” seperti saya. Tapi ternyata saya keliru hehe. Teh Kiki ternyata orangnya heboh, lucu, spontan, low profile, dan memang sabar banget. Tiga jam mengikuti seminar beliau benar-benar bikin semangat dan memotivasi saya bahwa bersama Allah, saya akan menjadi Emak Rempong yang bahagia mendidik anak-anak saya.
Supaya teman-teman bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman saya mengikuti seminar kemarin, maka saya akan menuliskan poin-poin penting bagaimana caranya agar kita bahagia menjadi Emak Rempong yang mengasuh anak-anak kita. Awal penyampaian materi, para peserta diminta untuk mengisi kuisioner untuk mengetahui posisi level kesabaran kita dalam mengasuh anak-anak kita. Setelah itu Teh Kiki menjelaskan satu persatu apa saja yang menjadi penyebab tidak sabarnya kita mengasuh anak-anak.
1. Tidak sadar amanah Vs Sadar Amanah
Kalau Ibu sadar bahwa anak adalah amanah dari Allah yang pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akherat kelak, maka kita akan berhati-hati mendidik dan menjaga amanah ini. Akan sangat berbeda ruhnya saat kita sadar bahwa anak adalah amanah dan tidak sadar kalau anak adalah amanat dari Allah. Tidak semua orang tua ditakdirkan memiliki anak meski sudah berupaya besar, maka syukurilah kalau kita diberi amanah Allah berupa anak.
2. Tidak sadar perintah Allah Vs Sadar perintah Allah
Allah menyuruh kita menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka yang bahan bakarnya berasal dari batu ( TQS At-Tahrim : 6). Ibu diperintahkan Allah untuk menjaga kesucian fitrah anak dari segala pengaruh buruk. Kalau kita menyadari pentingnya tugas ini, maka kita akan lebih sabar untuk menjalani ketidaknyamanan dunia supaya kita selamat bersama keluarga di akherat kelak.
3. Menganggap anak sebagai beban Vs menganggap anak sebagai karunia
Cara pandang kita mengaggap apakah anak sebagai beban dan anak sebagai karunia, akan mendorong usaha kita untuk sabar mendidik anak-anak bagaimanapun susahnya. Level sabar Ibu yang memandang anak sebagai karunia akan berada pada level sabar yang tinggi.
4. Hubungan pasangan suami istri yang tidak harmonis Vs Harmonis
Kebahagiaan seorang Ibu akan menjadi modal besar untuk mengasuh anak-anak dengan penuh kesabaran. Hati kita tidak boleh kosong jiwanya karena kurangnya pasangan menyapa jiwa kita. Seringkali kekesalan pada suami, mendorong kita melampiaskan ke anak-anak kita. Maka perbaikilah hubungan yang harmonis dengan pasangan kita supaya kita lebih bahagia menghadapi segala tingkah laku anak.
5. Beban dalam pekerjaan Vs Nikmat bekerja
Kita harus bisa mengatur kesibukan sesuai dengan usia anak. Kalau memang anak-anak masih kecil, maka menunda bekerja di luar rumah supaya kita tidak membawa stress kerja ke dalam rumah dan bisa fokus mengasuh anak terlebih dahulu. Bukan akhir segalanya kalau kita hanya menjadi Ibu Rumah Tangga dan fokus mengasuh anak-anak. Setelah anak-anak besar, kita bisa mencoba bekerja lagi sesuai dengan passion kita.
6. Tengah mengalami himpitan Vs Kelapangan
Saat kita diuji Allah berada di kondisi yang terhimpit dan sempit, misalnya suami diuji diberhentikan dari pekerjaannya atau saat pendapatan suami yang tidak cukup di akhir bulan, maka kita harus berlapang dada dan mempertebal ketaqwaan kepada Allah untuk bekerjasama menghadapi permasalahan bersama-sama.
7. Minim ilmu pengetahuan anak Vs Tahu Ilmu
Saat kita memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak dan otak anak, maka kita akan mudah berekspetasi dengan tepat dan siap menemani tumbuh kembang anak.
8. Tidak memiliki kesamaan visi dengan lingkungan Vs Sevisi
Kadang kita berusaha mendidik anak dengan baik dirumah, namun kita mendapati lingkungan yang tidak sevisi dengan kita, seperti perilaku tetangga yang buruk, pergaulan yang bebas dilingkungan sekitar rumah, bahasa-bahasa kotor anak-anak sekitar rumah atau di sekolah dll. Kalau suami dan istri kompak dan memiliki kesamaan visi tentang mendidik anak, maka kita berdua akan lebih sabar menyelesaikan segala akar permasalahan dalam mendidik anak yang bertentangan dengan lingkungan kita.
9. Mengalami kelelahan Vs Prima
Kalau kita capek biasanya rentan stress dan meluapkan emosi marah, oleh karena itu kita harus peka dengan kondisi tubuh kita. Saat mengenali kondisi tubuh yang hampir lelah dan ingin marah, maka kita harus istirahat, makan dengan cukup, rileks sejenak dan meminta bantuan suami untuk menemani anak-anak. Saat weekend mungkin kita bisa gunakan waktu untuk “me time”, piknik atau beristirahat santai di rumah.
10. Kegiatan tidak teratur Vs teratur
Kegiatan harian yang sudah dijadwalkan secara teratur akan lebih mudah bagi kita mengatasi segala kerepotan mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Bikin jadwal untuk kegiatan anak sehingga anak belajar mengelola dan mengatur kegiatannya sendiri. Kebiasaan melakukan kegiatan secara teratur akan memudahkan anak untuk memprediksi kegiatan yang akan dikerjakan dan anak sangat suka dengan keteraturan.
11. Terkejar tenggat waktu Vs mengatur waktu
Kita kadang selalu mengerjakan sesuatu secara terburu-buru dan mengharapkan anak bisa mengerjakan kegiatan dengan cepat. Anak-anak sebenarnya mudah diajak bekerjasama. Saat kita ingin mengajak anak pergi keluar rumah, maka kita sebaiknya menjelaskan kepada anak sebelum berangkat supaya anak bisa mengatur waktunya dan bisa bersiap-siap tanpa terburu-buru. Kalau kita dirumah mengurus bisnis online yang memiliki deadline, maka kita harus bisa mengelola waktu dengan tepat. Jangan sampai kita marah pada anak karena kita terlalu sibuk melayani pembeli yang mungkin labanya hanya Rp 10.000-20.000 saja. Kebutuhan untuk memberi perhatian pada anak, nilainya lebih besar daripada kita mengejar laba bisnis online yang tidak seberapa itu. Kita harus bijaksana mengontrol waktu dengan mengatur porsi waktu kita antara mengasuh anak dan berbisnis online, karena masa-masa mengasuh anak yang terlewat tidak akan pernah bisa kembali lagi.
12. Cuaca lingkungan yang tidak nyaman Vs lingkungan nyaman
Biasanya cuaca panas dan gerah sering mengakibatkan orang tua rentan untuk meluapkan emosi dan kurang peka sehingga kurang mengasuh anak-anak. Ciptakan suasana yang nyaman dan “adem” dilingkungan rumah kita. Kalau ada rezeqi lebih, boleh lho minta pasang AC dirumah hehe.
13. Lingkungan padat Vs lingkungan damai
Saat suami bekerja di lingkungan yang tempatnya jauh dari rumah, pasti suami akan capek di jalan sehingga menjadi kurang sabar dalam mengurus anak-anak. Kita kadang sering meminta suami cepat pulang supaya kita bisa “ beristirahat sejenak” untuk mengasuh anak sehingga saat suami pulang kita ingin suami segera melanjutkan estafet mengurus anak padahal saat itu suami juga sama-sama lelah. Akhirnya kita berdua menjadi kurang sabar dalam mendidik anak. Ibu boleh mengkondisikan rumah berantakan saat suami ada dikantor. Tetapi di sore hari Ibu bisa mengajak anak-anak untuk merapikan rumah, memandikan anak, memberi makan anak sehingga saat suami pulang ke rumah akan senang disambut anak-anak yang rapi. Bantu suami membersihkan diri, menyediakan makan dan istirahat sejenak sehingga siap bermain dengan anak-anak.
Teh Kiki juga membagi Resep Sabar menjadi Emak Rempong Bahagia, yaitu :
1. Pahami anak adalah anugrah
Kalau kita menyakini bahwa anak adalah anugrah dan simpanan di akherat, maka kita lebih mudah untuk sabar mendidik anak-anak di setiap kondisi.
2. Ingat apa yang ditanam, maka itulah yang akan dipanen
Pastikan untuk selalu menanam kebaikan ke dalam diri anak-anak. Kalau kita sering membentak dan memarahi anak, maka sel-sel otak anak akan rusak, anak menjadi pembangkang dan tidak dekat dengan kita. Kalau kita sering mengajarkan kebaikan untuk anak-anak kita maka anak-anak akan menyayangi kita dan berbuat kebaikan yang kita latih, maka kita pun mendapatkan pahala dan kebaikan dalam mengajarkannya.
3. Ingat cobaan dan amanah sudah ditakar
Allah kasih ujian kepada kita melalui anak-anak kita itu sudah terukur sesuai kesanggupan kita. Maka yakinlah kalau Allah mengizinkan ujian itu menimpa kita, maka Allah pasti akan membantu kita. Jangan batasi stok sabar kita, karena nantinya kita akan mudah menyerah. Yakinlah stok sabar kita tidak terbatas sehingga kita lebih mudah berlapang dada dan sabar menyelesaikan ujian satu persatu.
4. Curhat dulu ke Allah
Allah adalah sumber kemudahan dan petunjuk, maka sebelum curhat ke suami atau teman maka sebaiknya curhat dulu ke Allah supaya Allah memberi kita kekuatan dan kesabaran untuk bisa menjalani ujian dan kesulitan yang menimpa kita. Ibu-ibu yang banyak curhat di facebook biasanya kurang mendapatkan perhatian dari suami dan “kurang” curhat ke Allah. Jadi suami juga harus paham dan hapal kalau Istri kadang cuma butuh di dengarkan kalau sedang curhat masalah anak atau urusan rumah tangga.
5. Fitrah anak itu baik
Tugas Ibu dan Ayah adalah menjaga kesucian fitrah . Jauhkan anak dari bahaya pornografi yang merusak otak anak sehingga sulit untuk belajar, beribadah dan berbuat kebaikan. Banyak ajarkan perilaku baik yang mendatangkan kebaikan buat anak dan berpahala. Bacakan buku-buku yang baik juga supaya anak mudah meniru perbuatan baik yang dilakukan sang tokoh kebaikan.
6. Ingat manusia diberi 2 jalan, jujur dan fujur (kejahatan).
Takwa dan istiqomahlah kita dalam mengajarkan kebaikan kepada anak-anak kita. Anak-anak kadang bereksplorasi untuk mengetahui hubungan sebab-akibat dan daya imajinasinya yang tinggi dalam berperilaku, bukan berarti dia nakal dan ingin melakukan kejahatan yang membuat kita marah.
7. Lihat lebih dalam motif dan alasan dibalik perbuatan anak
Saat kita melihat anak-anak yang mencoret-coret tembok dengan kata-kata “ I love you Mom” atau menulis di pintu mobil dengan paku “ I love you, Dad”. Apa reaksi pertama kita saat melihatnya ? Apakah kita akan langsung memarahi anak? Memukul anak? Atau memeluk anak sambil mengucapkan “Keren banget! I love you too”. Apresiasi ungkapan rasa cinta anak kepada kita, jangan memfokuskan pertama kali dengan perilakunya yang membuat kita marah ( mencoret-coret dinding dan merusak pintu mobil). InsyaAllah tembok yang kotor dan pintu mobil yang rusak masih bisa kita perbaiki, namun hati anak yang tersakiti, akan sulit kita obati.
8. Atasi permasalahan anak hingga ke akarnya
Saat menemui perilaku buruk anak, jangan hanya melihat dari permukaannya saja, kita harus mencari akar permasalahannya. Misalnya saat melihat anak yang iri dengan adik kecilnya yang sering diajak main oleh Ayahnya, lantas dia mencari-cari mainannya saat dia masih kecil dan mengajak Ayah bermain bersama. Kalau kita paham bahwa ternyata anak sebenarnya sangat rindu bermain dengan Ayah dan Ayah bingung untuk melakukan permainan apa yang cocok dimainkan bersama anaknya yang beranjak besar, maka Ibu bisa menyarankan Ayah melakukan hobi bersama anak sehingga bisa saling ngobrol seru dengan sang Anak.
9. Pahami perkembangan anak dan kapasitas anak
Saat kita mengetahui tahapan perkembangan anak, maka kita akan mampu sesuaikan target dan harapan sesuai dengan usia dan kapasitas yang dimiliki anak. Kita tidak akan menuntut kemampuan lebih diluar kapasitas anak.
10. Anak tidak terlahir seperti kertas kosong, tapi terlahir dengan potensi bawaannya
Setiap anak adalah unik dan membawa potensi bawaannya yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Hargai semua kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak.
11. Negasi perilaku (misbehavior/ perilaku negatif anak itu wajar)
Kalau anak melakukan perbuatan negatif jangan buru-buru menghakimi anak dan melabeli anak “nakal”. Kita harus mencari tahu apakah anak sudah tahu atau belum bahwa perilaku yang dia lakukan itu benar atau salah? Kalau belum tahu, maka kita harus sabar menjelaskan kepada anak.
12. Tetap istiqomah dan konsisten jalani aturan
Kalau kita sudah menetapkan aturan bersama anak-anak dan suami, maka seluruh anggota keluarga harus menjalankan aturan itu dengan konsisten. Jika ada yang melanggar, maka harus mendapatkan konsekuensi atau sanksi yang sudah disepakati bersama keluarga.
13. Indentifikasi gangguan eksternal dan perubahan suasana hati anak
Saat kita mendapati gangguan eksternal dan perubahan suasana hati anak, maka segera cek kebutuhan dasarnya apakah sudah terpenuhi. Gali apa yang menyebabkan suasana hati anak berubah, beri perhatian dan dengarkan anak.
14. Cari momentum yang pas untuk menasehati anak
Saat anak melakukan kesalahan atau perilaku menganggu saudaranya, jangan menasehati anak saat masih marah, kesal atau sedih. Tunggu sampai anak merasa tenang dan nyaman. Saat menjelang tidur kita bisa membacakan buku anak dan ngobrol dengan anak, setelah itu beri nasehat dengan penuh kelembutan dan tidak menghakimi.
15. Lepas semua beban sebelum bertemu dengan anak
Saat kita sedang lelah dan stress, maka kita bisa istirahat sejenak, wudhu dan sholat minta kemudahan sama Allah untuk kuat menghadapi ujian. Saat kita sudah pasrah dan tawakal sama Allah, maka kita siap keluar kamar untuk bisa mengasuh anak-anak lagi. Saat Ibu bekerja diluar rumah, siapkan dan hadirkan hati kita dengan melupakan semua beban pekerjaan kita di tempat kerja. Sambut pelukan anak-anak dengan wajah ceria dan perasaan rindu ingin bermain bersama mereka.
16. Kesehatan mental Ibu adalah modal penting untuk mengasuh anak
Ibu yang bahagia dan mendapatkan perhatian yang cukup dari suami adalah modal untuk mengasuh anak-anak dirumah. Sapalah jiwa istri , bahagiakan istri dan hargailah setiap jerih payah istri yang sudah ikhlas mengasuh anak-anak dan mengurus rumah.
17. Sesuaikan gaya komunikasi sesuai usia anak
Saat berkomunikasi dengan anak, maka kita harus menyesuaikan dengan usia anak. Kalau anak masih kecil, gaya komunikasinya memberi arahan dengan penuh kasih sayang. Kalau anak yang lebih besar, gaya komunikasinya lebih kepada diskusi. Sesuaikan gaya komunikasi kita dengan usia, temperamen dan karakter anak.
18. Agendakan komunikasi dengan pasangan
Agendakan mengobrol dengan pasangan saat suasana santai untuk membahas anak-anak dan membuat planning untuk keluarga sebelum di diskusikan bersama dengan anak-anak. Dengarkan semua curhatan Istri supaya Istri merasa diperhatikan dan dihargai. Ciptakan hubungan yang harmonis supaya kompak dalam mengasuh anak-anak.
19. Komunikasikan dengan lingkungan sekitar
Saat kita ingin membuat aturan bersama keluarga untuk melatih kemandirian anak-anak, dan kakek neneknya datang berkunjung kerumah, maka kita harus memberitahukan perilaku apa saja yang sedang diterapkan dalam minggu itu sehingga kita bisa kompak bersama kakek neneknya untuk melatih kemandirian anak.
20. Mudahlah dalam memberi maaf
Allah Maha Pemurah mengampuni semua dosa-dosa yang sudah kita kerjakan kalau kita bertobat dan memohon ampunan. Maka kita juga harus mudah memberikan maaf kepada anak-anak yang melakukan kesalahan, baik sengaja atau tidak sengaja dan tidak mengingat-ingat kesalahan anak-anak yang sudah dilakukan anak terdahulu. Kalau anak sudah meminta maaf, kita berlapang dada memaafkan dan melupakan kesalahannya. Anak juga manusia yang sering melakukan kesalahan, sama seperti kita bukan?
Wah ternyata uraian poin-poinnya lumayan panjang ya. InsyaAllah akan lebih komplit lagi kalau kita sudah baca buku Teh Kiki “ 5 guru kecilku” bagian pertama yang kabarnya buku bagian kedua juga sedang digarap. Semoga Allah melimpahkan kebaikan dan pahala kepada Teh Kiki dan keluarga beliau. Semoga kita bisa kompeten dan sabar mengasuh dan mendidik anak-anak kita dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Wallahu a’lam bishowab. Semoga bermanfaat
Teh Kiki dan adik juga Teh Ghaida Tsurayya

Pembicara seminar parenting "Bahagia menjadi Emak Rempong" : Teh Kiki Barkiah dan Teh Ghaida Tsurayya ( putri sulung Aa Gym

Teh Kiki saat mengisi seminar 

Alhamdulillah buku yang ditunggu-tunggu sudah bisa dibaca, keren bukunya 

3 komentar:

  1. Saya sedang mencari informasi berkenaan dengan rumah tangga.

    Sayang tulisannya agak sulit dibaca (melalui laptop).

    Salam hangat. Bunda Fatih.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...