“Aku
nggak mau sekolah, Ummi!. Pokoknya Nabila mau sekolah di rumah aja sama Ummi”.
Ya,
hampir setiap hari Nabila selalu mengajukan protesnya untuk berhenti sekolah di
SD Jangjeondong yang baru dia masuki tanggal 4 Maret 2013. Keluhan ini
sebenarnya mulai muncul setelah seminggu dia sekolah. Hingga sekarang ketika
diminta untuk melanjutkan sekolahnya kembali selepas libur summer tahun ini,
jawaban keras muncul dari bibir mungilnya “ Siro! (nggak mau!)”.
Setelah
sekian lama saya memutuskan untuk menahan diri saya untuk tidak membuat tulisan
terkait kondisi dan pengalaman Nabila di sekolah, setiap hari selalu dirundung
kegelisahan. Jujur sampai saat saya membuat tulisan ini, saya masih ragu dengan
keputusan yang saya ambil. Apakah menarik Nabila dari SD Korea dan memutuskan
untuk memberikan pendidikan langsung bersama saya di rumah adalah tindakan yang
tepat? Bagaimana dampaknya bagi perkembangan kepribadian dan psikologis dia
kedepannya? Apakah tidak merasa sayang sudah keluar dari sekolah yang bagus
pendidikannya dan gratis pula? Apa nggak merasa menyesal udah berhentikan
Nabila sekolah disana, nanti kalau dia bosan belajar di rumah bagaimana?
Begitulah
kegelisahan yang saya alami setiap harinya. Saya memang tipe pemikir, alias
sulit tidur nyenyak jika memikirkan sesuatu yang masih mengganjal pikirannya
saya. Dari bulan Maret hingga Agustus, saya berusaha memikirkan dan mencari
solusi yang terbaik untuk sekolah Nabila.
Nabila
mulai sekolah SD Jangjeondong tanggal 4 Maret 2013. Awalnya sempat ragu karena
Nabila bilang dia tidak ingin sekolah di SD Korea dengan alasan saat sekolah di
TK Dongbaek hanya sedikit teman yang mau
bermain dengannya. Hanya beberapa nama saja yang sering dia ceritakan setiap
sepulang sekolah, Park Jae Bin, Yerimi, Hatewon dan Jau Jhin. Keempat teman
itulah yang membuat Nabila bisa menikmati senangnya belajar dan bermain di TK
Dongbaek. Saat itu saya menyakinkan dan mencoba memotivasi Nabila bahwa
anak-anak SD tentu berbeda dengan anak TK. Mereka pasti lebih bisa menerima dan
paham bahwa Nabila memang berbeda. Nabila yang beragama Islam dan memakai
kerudung setiap harinya.
Saat
orientasi sekolah tanggal 4 Maret 2013, saya bersama mentor Korea juga suami
pergi mengantarkan Nabila ke sekolahnya. Acara penyambutan siswa kelas satu
baru yang semarak dan menyenangkan membuat saya semakin yakin bahwa Nabila akan
senang sekolah disini dan keputusan untuk menyekolahkan di SD Jangjeondong sangatlah tepat. Saya yakin
sekali saat itu bahwa mereka pasti akan menerima Nabila dengan baik.
Saat
orientasi sekolah, saya bersama mentor menemui guru wali kelas menanyakan
apakah pihak sekolah akan memberikan keringanan kepada Nabila untuk mengganti
makanan yang tidak bisa Nabila makan dengan makanan seafood. Saya berusaha
menyebutkan makanan apa saja yang tidak bisa Nabila makan seperti daging babi,
ham, daging sapi, daging ayam, kaldu daging dan keju. Mendengar permintaan
saya, guru segera menyampaikan maaf karena sepertinya pihak sekolah akan sulit
untuk meluluskan permintaan saya. Guru mempersilahkan saya untuk menyiapkan
bekal sekolah untuk Nabila setiap harinya. Alhamdulillah saya bersyukur sekali.
Keyakinan saya makin bertambah bahwa Nabila bisa diterima di SD ini. Saya dan
Nabila pulang dengan gembira.
Seminggu
berlalu, Nabila sering mengeluh kepada saya kalau teman-temannya tidak ada yang
mau mengajak main. Nabila mengatakan mungkin penyebabnya dari kerudung yang
dipakai Nabila. Saya dan mentor Korea lalu pergi menemui guru wali kelas saat
usai sekolah. Saya menyampaikan kondisi Nabila kepada guru wali kelasnya.
Gurunya mengiyakan kondisi Nabila di kelasnya dengan alasan karena teman-teman
Korea sangat sulit menerima perbedaan Nabila baik dari segi penampilan dan
makanan bekal Nabila.
Guru Nabila meminta saya mengizinkan Nabila melepas kerudungnya selama sekolah di SD Korea. Nabila yang mendengarnya jelas menolak untuk melepaskan kerudungnya. Saya mengatakan bahwa kami belum bisa mengizinkan Nabila melepaskan kerudungnya karena kami adalah muslimah dan kerudung ini adalah perintah dalam agama Islam yang kami anut.
Guru Nabila meminta saya mengizinkan Nabila melepas kerudungnya selama sekolah di SD Korea. Nabila yang mendengarnya jelas menolak untuk melepaskan kerudungnya. Saya mengatakan bahwa kami belum bisa mengizinkan Nabila melepaskan kerudungnya karena kami adalah muslimah dan kerudung ini adalah perintah dalam agama Islam yang kami anut.
Gurunya
lalu menunjukkan sebuah gambar anak memakai kerudung yang digambar oleh Nabila.
“Inilah
yang membuat Nabila sulit diterima teman-teman sekelasnya, Bu Nabila. Teman
lainnya akan menggambarkan dirinya dengan anggota tubuh yang lengkap. Tetapi
Nabila tidak menggambarkan telinga dan rambut seperti teman lainnya. Dia malah
menggambar hijab yang menutupi rambutnya ini”, ujar gurunya menyakinkan saya.
Saya
hanya bisa tersenyum, karena memang seperti itulah penampilan keseharian Nabila
di sekolah. Bingung harus menjawab seperti apa. Wajar kalau Nabila menggambarkan dirinya sesuai dengan kesehariannya. Mengapa hal ini bisa menjadi sulit diterima?, pikir saya di dalam hati. Saya berusaha menjelaskan dengan baik dan perlahan kepada ibu gurunya. Saya
lalu membuka kerudung Nabila dan memperlihatkan kepada gurunya.
Saya meminta gurunya untuk menunjukkan rambut Nabila yang ditutupi kerudungnya kepada teman-temannya besok supaya teman-teman bisa melihatnya bahwa tidak ada yang perlu dipusingkan dengan penampilan Nabila. Saya juga meminta gurunya menjelaskan alasan Nabila harus menggunakan kerudung ke sekolahnya setiap hari dan membawa bekal dari rumah karena orang Islam yang baik harus menghindari makanan yang berbahan daging. Saya berharap sekali gurunya bisa membantu saya dan masalah Nabila bisa selesai.
Saya meminta gurunya untuk menunjukkan rambut Nabila yang ditutupi kerudungnya kepada teman-temannya besok supaya teman-teman bisa melihatnya bahwa tidak ada yang perlu dipusingkan dengan penampilan Nabila. Saya juga meminta gurunya menjelaskan alasan Nabila harus menggunakan kerudung ke sekolahnya setiap hari dan membawa bekal dari rumah karena orang Islam yang baik harus menghindari makanan yang berbahan daging. Saya berharap sekali gurunya bisa membantu saya dan masalah Nabila bisa selesai.
Keesokan
harinya Nabila bercerita kalau dikelas tadi gurunya menjelaskan kepada teman-temannya
kalau Nabila adalah orang Islam jadi harus menggunakan hijab ke sekolah setiap
harinya. Dan menjelaskan kalau Nabila tidak bisa makan daging-dagingan karena
orang Islam dilarang makan daging dan menyukai makanan seafood juga sayur.
Alhamdulillah, saya bersyukur sekali berharap semoga Nabila bisa diterima oleh
teman-temannya.
Dua
minggu berlalu, Nabila masih mengeluh kalau Nabila masih tetap sulit memiliki
teman. Saya mendengarkan ceritanya dengan seksama. Saya tahu Nabila pasti
membutuhkan teman untuk menjalani hari-harinya di sekolah. Saya menawarkan
beberapa tips sederhana untuk memperoleh teman di sekolah. Berikut ini beberapa
tips yang saya sampaikan ke Nabila : Nabila bisa mulai mengajak duluan temannya
untuk bermain bersama, Nabila bisa coba menawarkan diri untuk membantu teman, Nabila lihat
aja dulu teman yang bermain sambil Nabila belajar gimana cara bermainnya
setelah itu meminta teman untuk mengajak bermain dan memberikan hadiah berupa
gambar atau stiker yang disukai temannya.
Di Korea, memang anak TK dan SD
terbiasa saling memberikan hadiah kecil kepada teman-temannya. Nabila sering
bertukar hadiah dengan teman-temannya. Bukan hadiah mahal, tapi hadiah kecil dan
sederhana yang membuat mereka saling menyayangi satu sama lain. Acara
pertukaran hadiah hanya bertahan beberapa hari saja karena Nabila mengatakan
kalau teman-temannya hanya mau hadiah dari Nabila saja tetapi tetap tidak mau
mengajak main. Saya menanggapinya dengan senyuman saja. Dia juga bilang sudah
mencoba tips berteman yang sudah saya tawarkan, tetapi tetap saja dia tidak
diajak main dan disuruh pergi menjauh dari mereka.
Saya
berusaha mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Saya lalu meminta Nabila untuk
melakukan kegiatan-kegiatan seru yang bisa dia lakukan untuk mengusir
kejenuhan. Dia memilih untuk membawa buku gambar dan menggambar di kelas saat
temannya bermain di luar kelas. Dia lakukan hingga akhirnya bosan dan mengeluh
kalau teman-temannya sering mengejek dia “Babo (bodoh)”, “Isange (aneh), jelek,
monster dan lain-lain.
Saya berupaya menghiburnya, sambil memintanya untuk tidak mendengarkan ejekan teman-temannya. Saya mengatakan kalau Nabila tidak seperti yang dikatakan teman-temannya. Nabila adalah anak pintar karena bu guru bilang Nabila bisa berbahasa Korea dan pandai di kelas. Nabila juga gadis cantik ditambah kerudungnya, yang bikin Ummi Abi dan Allah sayang banget sama anak muslimah. Nabila bukanlah monster, mana ada monster yang imut seperti ini. Karena monster biasanya mukanya menakutkan dan jahat perilakunya. Nabila kan anak yang baik.
Saya berupaya menghiburnya, sambil memintanya untuk tidak mendengarkan ejekan teman-temannya. Saya mengatakan kalau Nabila tidak seperti yang dikatakan teman-temannya. Nabila adalah anak pintar karena bu guru bilang Nabila bisa berbahasa Korea dan pandai di kelas. Nabila juga gadis cantik ditambah kerudungnya, yang bikin Ummi Abi dan Allah sayang banget sama anak muslimah. Nabila bukanlah monster, mana ada monster yang imut seperti ini. Karena monster biasanya mukanya menakutkan dan jahat perilakunya. Nabila kan anak yang baik.
Meski
setiap hari saya selalu menguatkan hatinya, tetap saja dia menolaknya. Dia
ternyata lebih menerima kata-kata temannya yang mempersepsikan dirinya seperti
orang yang bodoh, jelek, aneh dan seorang monster. Kata-kata saya sulit
diterimanya. Pada akhirnya julukan-julukan negative itu yang lebih melekat dan
membentuk self esteem-nya (penilaian
dirinya). Saya akui di usia sekolah memang penilaian dari teman-teman terhadap
dirinya lebih berpengaruh, karena usia sekolah memandang teman adalah orang
yang sangat penting bagi hidup mereka. Apa yang dikatakan temannya tentang
dirinya adalah benar adanya. Mereka masih belum bisa memilah dan menerima bahwa
tidak semua yang dikatakan temannya adalah tepat dan sesuai dengan kondisi yang
sebenarnya.
Hampir
setiap hari, Nabila selalu tidak bersemangat pergi ke sekolah serta lesu sepulang sekolah. Tidak antusias kalau diminta menceritakan pengalamannya di sekolah saat saya mengajaknya
bicara di malam hari menjelang makan malam. Tidak ada pengalaman menyenangkan
yang dia ceritakan. Semuanya cerita pengalaman teman-temannya yang tidak mau
mengajak bermain, mengolok-olokinya dan mengusilinya. Saya hanya berusaha
menyakinkan kalau Nabila kelak pasti akan memiliki teman yang baik seperti di
TK dulu.
Perkembangan
emosi Nabila selama sekolah di SD Korea juga berubah drastis. Dia menjadi anak
yang pemurung, uring-uringan, menangis setiap kali menceritakan keusilan
temannya, menilai negatif dirinya sendiri. Dia pernah bilang “Nabila ini memang
bodoh ya Ummi, nggak ngerti pelajaran Korea seperti teman-teman lainnya, pantas
aja temen-temen nggak ada yang mau ajak main ya”, “Kenapa sih Ummi, Nabila
nggak ada yang mau ajakin Nabila main. Pasti karena Nabila pakai kerudung ya
Ummi. Padahal anak yang pake kerudung itu kan nanti masuk surga ya”, dan
ungkapan negatif lainnya. Nabila juga sering membantah nasehat dan kata-kata saya sebagai bentuk protesnya karena meminta dia terus bertahan di sekolahnya. Saya sempat merasa bersalah membuatnya jadi seperti ini.
Selain
masalah pertemanan, memang masalah akademik menjadi penyebab dia tidak bisa
menikmati belajarnya di sekolah. Penyebab utamanya adalah miskomunikasi dan hambatan bahasa. Saya akui kemampuan bahasa Korea saya dan suami juga kurang lancar. Nabila memilih berbahasa Indonesia saat berkomunikasi harian di rumah. Saya paling senang menyimak celotehan dia saat bermain boneka atau merekam kegiatannya menggunakan bahasa Korea melalui handphone Abinya.
Saya akui kemampuan bahasa Korea dia cukup baik, hanya saja tentu tetap kurang dibandingkan dengan kemampuan berbahasa teman-teman Koreanya. Inilah pokok permasalahannya. Dia kadang bisa paham apa yang diajarkan di sekolah, namun tidak menutup kemungkinan dia pasti mengalami kebingungan bahasa di kelasnya. Nabila sering bercerita kadang ingin menangis rasanya kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan gurunya. Dia malu sama teman-temannya kalau lama menjawab pertanyaan dari gurunya.
Guru sering menegur Nabila karena sering mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas sekolah yang tidak sesuai dengan petunjuk gurunya. Teman-teman sekelasnya juga sering menertawakan Nabila jika Nabila salah mengerjakan sesuatu di sekolahnya. Inilah yang makin menguatkan persepsi Nabila kalau dia benar-benar anak yang bodoh. Padahal saya sering menguatkan hatinya dengan mengatakan kalau dalam proses belajar, salah itu tidak apa-apa karena guru akan memberi tahu jawaban yang tepat seperti apa.
Saya akui kemampuan bahasa Korea dia cukup baik, hanya saja tentu tetap kurang dibandingkan dengan kemampuan berbahasa teman-teman Koreanya. Inilah pokok permasalahannya. Dia kadang bisa paham apa yang diajarkan di sekolah, namun tidak menutup kemungkinan dia pasti mengalami kebingungan bahasa di kelasnya. Nabila sering bercerita kadang ingin menangis rasanya kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan gurunya. Dia malu sama teman-temannya kalau lama menjawab pertanyaan dari gurunya.
Guru sering menegur Nabila karena sering mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas sekolah yang tidak sesuai dengan petunjuk gurunya. Teman-teman sekelasnya juga sering menertawakan Nabila jika Nabila salah mengerjakan sesuatu di sekolahnya. Inilah yang makin menguatkan persepsi Nabila kalau dia benar-benar anak yang bodoh. Padahal saya sering menguatkan hatinya dengan mengatakan kalau dalam proses belajar, salah itu tidak apa-apa karena guru akan memberi tahu jawaban yang tepat seperti apa.
Saya juga
menyakinkan dirinya bahwa kalau Nabila masih belum tepat mengerjakan tugas
sekolah karena Nabila bukan orang Korea dan kedua orang tua Nabila juga bukan
orang Korea, jadi kalau ada yang belum benar ya tidak mengapa. Namun Nabila
masih sulit menerima pendapat saya. Saat dia mendapatkan PR Matematika, dia
akan marah pada saya karena ternyata jawabannya salah dan hanya dia yang
menjawab salah diantara jawaban teman-temannya yang benar. Itulah yang kami
alami selama empat bulan berjalan.
Saya
sering mencoba mendiskusikan masalah Nabila dengan orang-orang yang bisa
membantu saya, seperti mentor Korea, guru bahasa Korea,teman Korea, imam masjid
Korea, teman mixmarried yang anaknya juga sekolah di SD Korea juga beberapa
teman Indonesia yang menyekolahkan anaknya di SD Korea. Tapi hampir semua orang Korea (baik teman Korea, mentor Korea dan Imam masjid Korea) sepakat bahwa masalah pertemanan Nabila di sekolah disebabkan kerudung yang dipakai Nabila dan makanan haram yang dihindari Nabila di sekolah.
Mentor Korea sempat menasehati saya, :" Kamu harus tetap menyekolahkan Nabila di SD. Tidak ada orang Korea yang menerapkan homeschooling untuk anaknya. Ini pilihan yang tidak umum. Kasihan Nabila belajar di rumah, nanti dia akan bosan. Dia tetap butuh teman. Semua anak kelas 1 SD juga stress seperti Nabila karena adaptasi sekolah, banyaknya kursus yang diambil sepulang sekolah, dan beratnya pelajaran di sekolah. Nabila tidak sendiri, pokoknya Nabila harus tetap sekolah".
Imam Korea masjid Al-Fattah Busan menasehati suami saya : " Situasi yang dialami Nabila sangat berat. Dan itu akan dialami oleh sebagian besar anak-anak mixmarried disini. Kerudung yang dipakai Nabila tidak akan diterima di sekolah dan teman-teman Koreanya. Lebih baik kamu ambil anakmu dari sekolahnya dan ajarkan pelajaran yang akan dipelajari di Indonesia nanti. Jangan fokus mengajari bahasa Korea. Bahasa Korea yang tidak pernah digunakan akan cepat hilangnya kalau nanti Nabila pulang ke Indonesia".
Teman Mualaf Korea mengatakan " Memang beginilah kondisinya Shinta. Saya sudah menduga Nabila akan mengalami masalah pertemanan dan sosialisasinya di sekolah. Karena saya paham dengan pemikiran orang Korea kebanyakan yang tidak bisa menerima keberadaan orang asing, apalagi berkerudung seperti Nabila".
Dari hasil diskusi panjang yang kami lakukan, memang dapat ditarik kesimpulan bahwa memang tidak semua sekolah keadaannya seperti sekolah Nabila. Tergantung bagaimana guru membantu menyikapi masalah ini dengan bijaksana dan memahamkan murid kelasnya untuk bisa menerima perbedaan budaya, agama dan kebiasaan dari warga negara di luar Korea.
Mentor Korea sempat menasehati saya, :" Kamu harus tetap menyekolahkan Nabila di SD. Tidak ada orang Korea yang menerapkan homeschooling untuk anaknya. Ini pilihan yang tidak umum. Kasihan Nabila belajar di rumah, nanti dia akan bosan. Dia tetap butuh teman. Semua anak kelas 1 SD juga stress seperti Nabila karena adaptasi sekolah, banyaknya kursus yang diambil sepulang sekolah, dan beratnya pelajaran di sekolah. Nabila tidak sendiri, pokoknya Nabila harus tetap sekolah".
Imam Korea masjid Al-Fattah Busan menasehati suami saya : " Situasi yang dialami Nabila sangat berat. Dan itu akan dialami oleh sebagian besar anak-anak mixmarried disini. Kerudung yang dipakai Nabila tidak akan diterima di sekolah dan teman-teman Koreanya. Lebih baik kamu ambil anakmu dari sekolahnya dan ajarkan pelajaran yang akan dipelajari di Indonesia nanti. Jangan fokus mengajari bahasa Korea. Bahasa Korea yang tidak pernah digunakan akan cepat hilangnya kalau nanti Nabila pulang ke Indonesia".
Teman Mualaf Korea mengatakan " Memang beginilah kondisinya Shinta. Saya sudah menduga Nabila akan mengalami masalah pertemanan dan sosialisasinya di sekolah. Karena saya paham dengan pemikiran orang Korea kebanyakan yang tidak bisa menerima keberadaan orang asing, apalagi berkerudung seperti Nabila".
Dari hasil diskusi panjang yang kami lakukan, memang dapat ditarik kesimpulan bahwa memang tidak semua sekolah keadaannya seperti sekolah Nabila. Tergantung bagaimana guru membantu menyikapi masalah ini dengan bijaksana dan memahamkan murid kelasnya untuk bisa menerima perbedaan budaya, agama dan kebiasaan dari warga negara di luar Korea.
Meski
memang sering ditemui anak-anak pernikahan mixmarried mengalami hal yang sama.
Alasannya karena warga Korea memang sulit menerima keberadaan dan perbedaan
yang mencolok baik secara fisik dan budaya anak-anak warga asing dan anak
mixmarried. Setelah mempertimbangkan banyak hal, berdiskusi panjang dengan
suami, sholat istikharah, dan meminta saran dari berbagai pihak, sejak
tertanggal 1 Juli 2013 saya memutuskan untuk menerapkan home education pada Nabila. Saya berfokus mengajarkan Nabila
belajar untuk persiapan masuk SD kelas satu di Indonesia nanti. Saya mulai
intensif mengajarkan Nabila membaca dan menulis huruf alphabet dan bahasa
Indonesia. Saya mencoba mendownload dan print buku-buku elektronik yang bisa
saya unduh di buku elektronik sekolah.
Alhamdulillah
sekitar 1,5 bulan home education berjalan, Nabila tidak stress lagi. Dia
kembali ceria. Dia mampu meregulasi dirinya sendiri untuk mengerjakan soal-soal
yang saya siapkan, semangat belajar bersama dan rajin membaca, menulis juga
berlatih berhitung. Semuanya dilakukan dengan senang hati. Dia benar-benar
menikmati home education bersama
saya. Untuk perkembangan sosialisasinya, saya masih bisa mengajak Nabila bermain dan berkunjung dengan teman-teman Indonesia yang seumuran maupun yang lebih muda usianya agar Nabila tetap bisa belajar bersosialisasi. Anak-anak Pakistan, Bangladesh, Korea Muslim dan Malaysia masih bisa menerima Nabila dan senang bermain bersama. Daripada saya terus mempertahankan hubungan pertemanan yang tidak sehat antara Nabila dan teman-temannya di sekolah. Semoga apa yang Ummi berikan untukmu bisa membuatmu berkembang lebih baik ya Nabila.
Alhamdulillah, saya berharap bisa belajar banyak dari pengalaman menyekolahkan Nabila sebelumnya dan tidak menyesalinya lagi. Saya memandang pengalaman tersebut mengajarkan saya banyak hikmah yang berharga. Saya lakukan semua ini semata-mata untuk mencari keridhoan Allah dan kebahagiaan juga masa depan Nabila. Semoga Allah memudahkan langkah kami ini..aamiin.. ^_^
Alhamdulillah, saya berharap bisa belajar banyak dari pengalaman menyekolahkan Nabila sebelumnya dan tidak menyesalinya lagi. Saya memandang pengalaman tersebut mengajarkan saya banyak hikmah yang berharga. Saya lakukan semua ini semata-mata untuk mencari keridhoan Allah dan kebahagiaan juga masa depan Nabila. Semoga Allah memudahkan langkah kami ini..aamiin.. ^_^
Beberapa artikel menarik seputar permasalahan seputar anak-anak multicultural :
Children born from cross-cultural marriages have steadily increased
their presence in Korea but they still face serious discrimination and
bullying at school. According to the Ministry of Public Administration
and Security, their number rose about 3.4 times in less than four years,
or 25,000 annually, from 44,258 in May 2007 and 151,154 in January last
year, as the country has seen increasing migrant workers and
cross-cultural couples.
In a survey of 186 children from cross-cultural homes last year, the National Human Rights Commission found that 37 percent had been bullied at school. Some 41.9 percent were ridiculed because of their strange accent, and 21 percent were told by their classmates to "go back your country."
In a survey of 186 children from cross-cultural homes last year, the National Human Rights Commission found that 37 percent had been bullied at school. Some 41.9 percent were ridiculed because of their strange accent, and 21 percent were told by their classmates to "go back your country."
This is a story about a multicultural
family that was featured on Yonhap News on January 8, 2012. A boy from a
multicultural family, with a father from Bangladesh and a Korean
mother, often told his parents that he wanted to commit suicide.
Although he was only 11 years old, he often thought about the least
painful way of dying. His father said, “I first thought that he could
get through these hardships. But after I heard of a middle school
student in Daegu who committed suicide because he was bullied at school,
I felt my son could get into an urgent situation.” He also mentioned
mob violence that happened in the classroom last year in May.
On that
day, as teachers did not come to the class, students were left without
any control. Becoming bored, students in the class voted for the
freakiest classmate. All the students except two voted for the boy from a
multicultural family. After finishing the vote count, three male
students hauled him to the back of the classroom and kicked him for a
while. Later, the homeroom teacher came to the classroom and controlled
the situation. However, the teacher did not tell the boy’s parents what
happened or express his or her regret. After that incident, he could not
go to school for four days.
Like this case, kids in multicultural
families have trouble adapting to school and making friends because of
the psychological isolation they feel from people around them. According
to a research conducted by Professor Seol Dong-hun, when he asked the
bullies why they picked on kids from multicultural families, 34.1
percent of them answered that it was because they had foreign parents.
Some of them answered that ‘they cannot communicate with us smoothly,’
‘there is no specific reason,’ ‘they behave differently from us,’ and
‘they have a different appearance.’ Put these together, we can see the
reasons why kids from multicultural families are bullied are not
reasonable or sensible.
The problem of them being bullied can be more
critical because they cannot discuss possible solutions with their
parents since they cannot speak Korean smoothly. If they cannot solve
these kinds of problems during their childhood, they may feel frustrated
and become confused about their identity. Additionally, some of the
kids in the multicultural families cannot speak Korean fluently because
they do not use Korean at home when communicating with their parents.
This leads to troubles not only in social interaction, but also in
learning. To help solve the problems in their lives, supporting them
with money, practicing affirmative action and centers for multicultural
families are not enough. This is because these can lead to a rather
biased perception among Koreans.
Nabila senang belajar dengan buku elektronik sekolah di bes |
Nabila senang mengerjakan soal matematika di buku bank soal matematika Koreanya |
Nabila belajar menulis dan membaca huruf hijaiyah sehingga mudah membaca IQRO |
Nabila mencoba membuat buku harian sendiri |
![]() |
Belajar membaca dan menulis menggunakan media yang menarik |
![]() |
Sahabat perempuan Indonesia Nabila di Busan |
Nabila...Semangat ya Dek..
BalasHapusAlhamdulillah..Makasih Om Aji.. ^_^
Hapuskk tetep semangat..
BalasHapusJazzakillah khoir ammah Caca..Semoga Ammah baik-baik saja di Mesir sana ya..Ummi dan Nabila doakan Mesir segera aman kembali. aamiin.. ^_^
HapusSemangaat Nabila sayang, umi Olil mendukung keputusan umi Nabila
BalasHapusJazzakillah khoir, Ummi Olil..Peluk cium buat Ummi Olil..Doakan Nabila bisa melewati semuanya dengan kuat ya Ummi.. ^_^
HapusMasyaallah luar biasa...kakak Nabila benar-benar anak Muslim yang hebat. Salut dengan keteguhan Nabila dan kegigihan orangtuanya.
BalasHapusJazakillah khairan katsiraa telah berbagi kisah berharganya
Afwan..Mohon doa dan nasehatnya selalu Ammah Tri..Doakan Ummi, Abi dan Nabila istiqomah memegang iman di dada meski ujian datang menguji..aamiin.. ^_^
HapusMbak, terima kasih atas sharingnya. Menambah wawasan saya. Tetap semangat ya, Nabila, Muhajidah Cilik. *peluk*
BalasHapusJazzakillah ammah Haya..Insyallah doakan Nabila bisa kuat dan istiqomah ya Ammah.. Peluk hangat dari Nabila di Busan.. ^_^
HapusMujahidah Cilik. *ralat*
BalasHapusInsyallah.. aamiin..^_^
Hapussenangnya kakak Nabila akhirnya bisa belajar dengan tersenyum...
BalasHapusmba Shinta, coba bergabung di Indonesia Homeschooler facebook group. itung - itung tambah teman dan wawasan melaksanakan homeschooling.
BISA!!
Alhamdulillah saya juga udah bergabung disana mbak.. Terimakasih tante Rika ^_^
HapusMakasih Mak Rika..Iya sy sudah gabung di grup Homeschooler..Sempat ikut workshop HS mbak Lala dan pak Aar hehe.. Makasih tante Rika.. ^_^
BalasHapusSubhanaallah. Perjuangan dinegeri orang. Kmaren ngga sengaja baca soal sulitnya Islam berkembang di Korea, krn orang Korea sulit menerima budaya lain. Ternyata Shinta dan keluarga mengalami langsung. Smoga terus istiqomah dan dimudahkan. Thanks for sharing. Nabila umur brp skarang?
BalasHapusAlhamdulillah terimakasih tante Nurul..Nabila umurnya 7 tahun bulan desember nanti.. ^_^ Doakan kami tetap istiqomah ya..
HapusSubhanaallah. Perjuangan dinegeri orang. Kmaren ngga sengaja baca soal sulitnya Islam berkembang di Korea, krn orang Korea sulit menerima budaya lain. Ternyata Shinta dan keluarga mengalami langsung. Smoga terus istiqomah dan dimudahkan. Thanks for sharing. Nabila umur brp skarang?
BalasHapusalhamdulillah Nabila udah ceria lagi. Semangat terus, ya, Nabila :)
BalasHapusTerimakasih banyak kakak Keke dan kakak Naima.. ^_^
Hapuswah, Nabila kecil-kecil sudah istiqamah ya tidak mau melepas kerudungnya. Semoga seterusnya ya Nak. Pendidikan semahal apapun, kalau membuat anak tidak nyaman dan bahagia malah tidam membawa hal positif ya Mbak untuk anaknya sendiri. Syukurlah Nabila sudah melewati masa itu. Tapi Mbak, ada yang ngeganjal nih, di tulisan Mbak kok ada kalimat Islam melarang makan daging? Bukannya hanya daging-dagimg dari hewan tertentu yang sudah jelas haramnya? Maaf, penasaran..
BalasHapusAamiin..Makasih banyak doanya ya mbak.. Kebetulan SD Nabila nggak mahal mbak, tapi gratis hehe..Iya mbak Rebellina, saya dan teman-teman disini memang menghindari daging sembelihan orang Korea non muslim karena tata cara penyembelihannya tidak mengikuti syariat Islam dan tidak membaca bismillah juga.. Semoga bisa dipahami ya mbak.. ^_^
HapusmasyaAllah...
BalasHapussemangat ya mbak shinta n dede nabila..
semoga Allah selalu membantu langkah2 kita yg rindu surga..^^
Leshya
Aamiin..Makasih tante Angie sayang..Tante juga semoga dimudahkan ya kuliah dan ibadah disini.. ^_^
HapusMasyaAllah...
BalasHapussungguh tak mudah ya mnjdi ibu,,,dan sungguh tak mudah mnjdi minoritas d negri yg majoritas atheis,,
tp tetaplah semangat...insyaAllah Allah akan ttp membantu org2 yg rindu surga...
aamiinnn,,insyaAllah,,
tetap semangat Nabilaa..sekolah=Jihad fissabilillah..^^
Aamiin..Makasih tante Angie sayang.. ^_^
Hapusbangus bangetya heme educationya nabila
BalasHapusTerimakasih sudah mampir ke blog kami..Saya masih baru belajar juga..Masih mencoba terus gimana cara belajar yang asyik dan seru untuk Nabila hehe..
Hapus